LOADING...
TUNGGU BENTAR YA MBAK... MAS...

Translate halaman ini

Yuk Tegakkan Sholat..

istiqomah dalam kebaikan... karena kebaikan senantiasa menuntun kepada cinta sejati, tuhan semesta alam...

gerbang pintas....

Tampilkan postingan dengan label energy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label energy. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Mei 2010

"Minyak Gendruwo" Buatan ITS

Kontroversi banyugeni sedikit demi sedikit menguap. Belum juga berakhir kini muncul bahan bakar "minyak gendruwo" yang diklaim jauh lebih hemat daripada minyak tanah. Namun, kali ini tidak ada rahasia-rahasiaan sebab bahan bakar alternatif tersebut sudah siap dipasarkan berikut kompor pembakarnya.

Bahan bakar alternatif ini dibuat para peneliti di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Bisa disebut "minyak gendruwo" karena bahan bakar tersebut memang dibuat dari singkong gendruwo, jenis singkong yang umbinya berukuran cukup besar. Para penelitinya sendiri menyebut minyak tanah BE-40.

Secara fisik tak ada yang istimewa dengan bahan bakar tersebut. Pada dasarnya, BE-40 adalah cairan bio-ethanol biasa. Namun, terobosan yang diperkenalkan ITS adalah pemilihan bahan baku yang murah serta proses pembuatannya yang mudah.

"Bio-ethanol itu sangat hemat, karena satu liter minyak bio-ethanol setara dengan sembilan liter minyak tanah biasa", kata peneliti bio-ethanol, Ir Sri Nurhatika MP di Surabaya, Kamis (26/6). Didampingi Pembantu Rektor (PR) IV ITS Surabaya, Prof Ir Eko Budi Djatmiko, ia mengatakan, harga satu liter bio-ethanol Rp10.000, sedangkan sembilan liter minyak tanah berkisar Rp27.000 dengan asumsi harga Rp3.000 per liter.

Tidak hanya itu, bio-ethanol juga dapat dibuat sendiri oleh masyarakat, karena bahan pembuatan ethanol dapat ditemukan di pasar dan cara pembuatannya pun mudah. Menurut dia, ethanol sebenarnya dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbohidrat, di antaranya ubi kayu, walur, kelapa sawit, tetes tebu, kacang koro, limbah tahu, limbah sampah, dan sebagainya.

"Bahan paling ideal adalah ubi kayu yang di Jawa dikenal dengan sebutan singkong gendruwo, karena tingkat karbohidratnya cukup tinggi. Singkong gendruwo juga mengandung pati (racun) yang tak layak dikonsumsi," katanya menambahkan.

Cara pembuatannya, kata dosen senior Biologi ITS Surabaya itu, singkong gendruwo itu ditumbuk halus, kemudian dimasak dengan panci sampai menjadi bubur. Hasilnya diberi ragi untuk memicu proses fermentasi dan didiamkan selama 4-5 hari sampai keluar cairan ethanolnya dengan kadar 90 persen. Namun, kadar ethanol 90 persen itu belum cukup untuk berfungsi seperti minyak tanah, sebab kadar ethanol yang dibutuhkan adalah 95 persen sehingga perlu ditingkatkan.

"Kalau kadar ethanolnya di bawah 95 persen masih mengandung Pb (timbal), sedangkan bahan bakar harus bebas dari Pb, sebab kalau ada Pb-nya bisa meledak. Untuk menaikkan kadar ethanol itu, katanya, perlu ditambahkan batu kapur (gamping), sehingga ethanol-nya menjadi bersih dari Pb.

Selain itu, kompor minyak tanah bio-ethanol juga tidak bersumbu. Dengan dukungan peneliti Teknik Mesin ITS Surabaya, desain kompor khusus bio-ethanol pun dikembangkan. "Hasil desain Teknik Mesin ITS itu akhirnya kami kerjasamakan dengan Koperasi Manunggal Sejahtera Yogyakarta, untuk memproduksi kompor tanpa sumbu yang harganya Rp40.000", katanya.

Oleh karena itu, minyak tanah bio-ethanol tidak hanya ekonomis, tapi juga terbukti tanpa jelaga. "Mungkin pemanasan minyak bio-ethanol yang agak lama. Misalnya, untuk memasak mie, kompor minyak tanah biasa hanya membutuhkan waktu 10 menit, sedangkan kompor bio-ethanol 2-3 menit lebih lama", katanya.

sumber : otomotif.kompas.com

Bioetanol dari Ganggang Air





Saat ini bioetanol banyak dipakai sebagai pengganti bahan bakar minyak. Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, berhasil meneliti ganggang air alias alga bisa dipakai sebagai bahan pembuatan bioetanol. Untuk satu liter bioetanol, hanya butuh 0,67 kilogram Algae spirogyra.

Para mahasiswa ITS itu adalah Sulfahri dan Eko Sunarto dari Jurusan Biologi FMIPA, serta Siti Mushlihah dan Renia Setyo Utami dari Teknik Lingkungan FTSP. Mereka mulai melakukan penelitian sejak April lalu yang didanai hibah Dikti dan menemukan kelebihan Algae spirogyra jika diolah menjadi bioetanol.

Lewat penelitian, mereka membuktikan kalau alga lebih efisien dijadikan bioetanol dibandingkan dengan bahan-bahan lainnya. Untuk menghasilkan satu liter bioetanol dibutuhkan 8 kg ubi jalar atau 6,5 kg singkong atau 5 kg jagung. Namun, untuk hasil yang sama, dengan Algae spirogyra hanya diperlukan 0,67 kg.

Sulfahri menyebutkan tertarik meneliti alga karena selama ini bioetanol banyak dihasilkan dari tanaman pangan seperti jagung, singkong, dan ubi jalar. Padahal, bahan-bahan ini masih dibutuhkan sebagai penopang bahan pangan. Sementara alga tersebar di mana-mana dan kandungan karbohidratnya lebih tinggi ketimbang jagung atau umbi-umbian.

Algae spirogyra atau ganggang air yang dipakai sebagai penelitian adalah yang hijau berbentuk benang. Alga yang tersusun atas sel-sel yang membentuk untaian panjang seperti benang ini berkembang biak secara vegetatif dengan cara fragmentasi dan perkembangbiakan secara generatif dengan konjugasi

Algae spirogyra memiliki kandungan karbohidrat hingga 64 persen. Karbohidrat dibutuhkan dalam proses fermentasi yang menghasilkan bioetanol. Alga cepat berkembang biak dan tidak membutuhkan lahan luas. Selain itu, proses fermentasi juga lebih cepat.

Pengolahan diawali dengan pengeringan manual di bawah terik matahari (lebih kurang tiga hari) atau dikeringkan dalam oven. Setelah kering dicampur air dengan perbandingan 1:15. Lalu dihancurkan dengan blender atau mesin.

Selanjutnya dipanaskan atau proses hidrolisis sekitar dua jam dan didinginkan dalam suhu hingga 4 derajat celsius. Untuk membantu proses fermentasi, ditambahkan enzim aminase. "Proses fermentasi 10 hari memiliki hasil lebih baik," kata Eko.

Untuk mendapatkan bioetanol, dilakukan destilasi. "Hasil dan kualitas tak kalah jika dibandingkan dengan bioetanol bahan lain," tegas Sulfahri.

Kebutuhan BBM nasional bisa dipenuhi lewat produksi bioetanol. Hingga Maret 2008, kebutuhan BBM Indonesia mencapai 1,3 juta barrel per hari, padahal produksi BBM nasional hanya sekitar 900.000 barrel per hari. Sementara total produksi bioetanol Indonesia hingga 30 Juni 2008 hanya sekitar 160.000 kiloliter.

sumber : otomotif.kompas.com

Muslim anti korupsi

Muslim anti korupsi
jaga kehormatan, jaga kesucian...
Kejujuran senantiasa menuntun menuju kebaikan...
go to my homepage
iman=sabar+syukur
Blogger Indonesia
Kang roni
:-)